Sastra bersama ilmu filsafat merupakan mother of science. Sebagai ibu dari ilmu pengetahuan, di masa lampau sastra adalah milik kolektif rakyat. Rakyat mengkreasinya, memproduksinya dan dinikmati bersama-sama. Maka tak heran, karya-karya sastra lama tak memiliki pengarangnya yang jelas dan hanya dituliskan N.N. Hal ini berbeda dengan sekarang, di mana sastra terkesan sedikit jauh dengan masyarakat kebanyakan.

Dalam perjalanannya, sastra (baca karya sastra) mengalami banyak perubahan dan perkembangannya, sehingga kita mengenal banyak sekali aliran dan jenis karya sastra. Untuk sekadar contoh, fiksi sains, fiksi detektif, fiksi sejarah dan masih banyak lagi, mewarnai dunia sastra. Ini merupakan konsekuensi dari semakin kompleksnya kehidupan manusia dari hari ke hari. Maka, sastra yang dipercayai sebagai sebuah bentuk refleksi sastrawan terhadap kehidupan pun ikut menjadi kompleks, sekompleks kehidupan yang menjadi sumur inspirasi utamanya.

Dalam kasus karya sastra sejarah, walau pun tak bisa dijadikan bahan rujukan utama memahami sejarah, pembaca bisa mengambil banyak pelajaran tentang sejarah dari sana. Dengan membaca Ibunda, Maxim Gorky misalnya, kita bisa menjadi lebih dekat dengan peristiwa Revolusi Bolsevhik. Begitu juga posisi Soru BuldogRintihan Burung Kedasih karya Pandir Kelana terhadap pemahaman atas masa revolusi kemerdekaan Indonesia. Dalam karya-karya sastra Indonesia mutakhir, khususnya cerpen yang tersebar di banyak media di negeri ini, sastra sejarah masih banyak kita temukan. Lebih jauh lagi, saya melihat tema sastra yang diangkat adalah tema-tema besar semisal G30S, Aceh, serta kerusuhan-kerusuhan pra-reformasi negeri ini. Di sini terlihat bagaimana sastra mengambil fungsinya sebagai memoria passionis, sebuah perlawanan terhadap lupa. Cerpen “Gerimis yang Sederhana” karya Eka Kurniawan[1] bisa dikatagorikan dalam sastra memoria passionis ini.

Dalam tulisan ini, saya mencoba membahas cerpen “Gerimis yang Sederhana: dari pendekatan sosiologi sastra. Maksud penggunaan pendekatan Sosiologi Sastra adalah untuk menelusuri keterkaitan cerpen tersebut dengan peristiwa sejarah serta dampaknya sekarang terhadap subyek dan obyeknya. Pemilihan atas cerpen “Gerimis yang Sederhana” dilandasi pada beberapa alasan. Pertama, cerpen ini termasuk karya sastra yang masih segar. Dalam pengertian baru dipublikasikan, sehingga bisa dianggap sebagai produk baru. Kedua, gaya dan sudut pandang cerpen ini yang menurut hemat saya berbeda dengan cerpen-cerpen sejenis lainnya. Sehingga, cerpen ini menarik dibaca dan tentunya menarik juga untuk dikaji.

 

Menengok Kembali Sejarah Getir

Cerpen Gerimis yang Sederhana tidak menjabarkan secara terperinci kapan setting waktu fiktif terjadinya cerita. Namun, dari beberapa informasi sekilas dalam cerpen ini, bisa disimpulkan bahwa setting waktunya adalah tahun 2007-2008-an. Informasi itu semisal, “Ia terlihat agak gugup. Setelah 1998, pikirnya, ini kali pertama aku (Mei, penulis) bertemu orang dari Jakarta[2].

Dari kutipan di atas tampak bahwa sejak tahun 1998, Efendi-lah orang pertama dari Jakarta yang berhubungan dengan Mei. Tahun 1998 merupakan sebuah ‘mitos’ umum Indonesia. Di tahun itulah terjadi reformasi dan beberapa peristiwa pra-reformasi yang cukup mendebarkan.

Wujud Prasasti Mei 1998 Setelah Dipugar dan Diberi Narasi. Lokasi: Komplek Makam Massal Korban #TragedMei1998 di TPU Pondok Ranggon, Jakarta Timur | Sumber: https://twitter.com/KomnasPerempuan/status/940909630569324544/photo/1

Nama tokoh perempuan protagonist dalam cerpen ini—Mei, menyiratkan sesuatu bila kita melihat keterpautannya dengan tahun 1998, satu-satunya keterangan tahun yang diutarakan secara tersurat dalam cerpen ini. Terlepas dari Mei adalah nama seorang tokoh cerpen ini, Mei juga adalah penamaan atas sebuah bulan dalam penanggalan Romawi yang kita kenal sekarang.

“Mei” dengan pengertian di atas akan memunculkan spesifikasi waktu yang disampaikan secara tersirat bila dihubungkan dengan 1998 yakni bulan Mei tahun 1998. Mei 1998 mengingatkan pada peristiwa Tragedi Mei 1998 yang merupakan salah satu tragedi berdarah, sebuah peristiwa ‘pembantaian‘ terhadap masyarakat Indonesia keturunan Tionghoa di Jakarta. Ketragisan dan kengerian peristiwa itu dapat digambarkan dari tulisan Benny G Setiono yang dikutip di bawah ini:

Tanggal 13-15 Mei 2004 ini genap enam tahun terjadinya tragedi yang telah merusak sendi-sendi kehidupan masyarakat Indonesia khususnya masyarakat Tionghoa. Tiga belas pasar, 2.479 ruko,40 mall,1.604 toko,45 bengkel,387 kantor, 9 SPBU, 8 bus dan kendaraan umum lainnya, 1.119 mobil, 821 sepeda motor dan 1.026 rumah tinggal habis dijarah, dirusak dan dibakar selama berlangsungnya aksi anarkhis tersebut.
Yang paling menyedihkan, dalam tragedi itu terjadi perkosaan massal terhadap puluhan kalau bukan ratusan perempuan Tionghoa yang dilakukan secara brutal. Juga terjadi pembunuhan sadis terhadap lebih dari seribu orang rakyat kecil yang terdiri dari anak-anak, remaja dan ibu-ibu rumah tangga yang berhasil diprovokasi untuk menyerbu beberapa mal dan menjarah barang-barang namun kemudian dikunci dan dibakar hidup-hidup oleh para provokator, penggerak aksi-aksi anarkhis tersebut[3].

Memang sudah ada beberapa karya sastra (khususnya cerpen) yang mengangkat tragedi Mei 1998 ini. Sebagai contoh misalnya cerpen “Clara”, Seno Gumira Adjidharma, serta beberapa cerpen Veven Sp. Wardhana dalam kumpulan cerpen Namaku Pheng Hwa. Posisi “Gerimis yang Sederhana” agak berbeda dengan beberapa cerpen di atas. Bila “Clara” misalnya, mengangkat langsung peristiwa yang terjadi pada saat itu, “Gerimis yang Sederhana” lebih mendekati peristiwa itu dari sisi ‘kenangan sang korban’.

 

Trauma Berkepanjangan Korban Mei 1998

Tokoh Mei adalah orang Indonesia yang ‘rupa-rupanya’ berpindah ke Amerika tepatnya New York lantaran peristiwa Mei 1998 itu. Peristiwa 1998 meninggalkan sebuah ketakutan dan trauma berkepanjangan untuk Mei. Hal ini terlihat pada paragraf IX, ketika Mei tengah bercakap-cakap dengan sepupunya lewat telepon genggam. Ketika itu, Mei diceritakan tengah memandang Efendi yang sedang makan di sebuah restoran cepat saji. Namun Mei tak mau menemui Efendi, karena ada pengemis di dalam restoran itu. Saat itulah sepupu Mei menelpon. Setelah mengetahui bahwa Mei tak mau masuk restoran lantaran ada pengemis di dalamnya, sepupunya berkata:

“Ya ampun, Mei. Ini Amerika. Pengemis di sini enggak sama de….” Suara di sana tak melanjutkan kalimat tersebut, seolah disadarkan pada sesuatu. Setelah bisu sejenak, sepupunya kemudian menambahkan, “Maaf.”[4]

Sebuah tragedi dan tindakan kekerasan bisa saja menimbulkan trauma bagi korbannya. Hal ini terlihat pada tokoh Mei. Bahkan, untuk menceritakan tragedi yang dialaminya itu pun, Mei seakan-akan kebingungan dan tak tahu bagaimana cara menceritakannya. Hal itu terlihat pada dialog Mei dengan Efendi, “Tahun 1998 di Jakarta, seorang pengemis nyaris me…,” Mei tak melanjutkan kata-katanya, kebingungan. “Gimana ya, aku mengatakannya?”

Sebuah cerpen terbuka—”Gerimis yang Sederhana” menurut hemat saya bisa dikatagorikan dalam jenis ini—memungkinkan penglanjutan cerita dengan bebas atau penafsiran bebas dari pembacanya. Kalimat Mei yang terputus pada ‘….me….” di atas pun dari sisi ini, bisa dilanjutkan dan direka-reka bebas oleh pembacanya. Saya lebih cenderung untuk melanjutkan kata kerja berawalan me—, di atas dengan kata perkosa. Jadi, kalimat itu menjadi lengkap demikian, “Tahun 1998 di Jakarta, seorang pengemis nyaris me(mperkosa saya-penulis)….”

Sebuah pemerkosaan untuk seorang perempuan merupakan sebuah tamparan yang teramat keras atas hidupnya. Mungkin hal ini berlaku juga untuk kasus Mei di atas. Walau pun kejadian tersebut hanya ‘nyaris’, tapi sudah cukup mendatangkan trauma yang berkepanjangan untuk Mei.

 

Mereka yang ‘Eksil’[5], Mereka yang Rindu Rumah

Tokoh Mei dalam “Gerimis yang Sederhana” bisa jadi adalah salah satu contoh korban tragedi-tragedi berdarah negeri ini yang akhirnya memilih untuk menetap jauh dari tanah air dengan berbagai alasan. Tokoh Mei menurut saya memilih tinggal di luar negeri (New York, Amerika) karena ingin menjauh dari bayang-bayang kekerasan yang menjadi mimpi buruknya dan tak kembali ke tanah air lantaran masih membekas dengan kuatnya trauma itu. Bahkan, bisa saja tokoh Mei ini memilih untuk tidak kembali.

Potret Makam Korban Tragedi Mei 1998 | Sumber: marhaenpress.com

Namun demikian, masih tersisa rindu dan kangen akan tanah airnya, rumahnya, Indonesianya. Hal ini terlihat pada kalimat di paragraph-paragraf terakhir cerpen ini;

Lagi-lagi kemudian Mei tertawa, sambil memukuli kemudi dan berkata. “Hampir sepuluh tahun dan aku belum pernah ketawa serupa ini. Lelaki memang tolol sekali, ya?”
Mei masih tertawa, sepanjang jalan terdengar serupa gerimis yang sederhana.[6]

Sebelumnya, digambarkan bahwa Mei tertawa terpingkal-pingkal ketika Efendi menceritakan bahwa cincin kawinnya yang dicopot dan disimpannya di kantong celananya, ikut raib bersamaan recehan yang diberikannya pada pengemis di restoran cepat saji tadi. Mei tertawa dan mengatakan, bahwa dahulu ia juga mengenal laki-laki yang selalu mencopot cincin kawinnya bila berkenalan dengan perempuan baru. Dan kenyataan, kini ia menemukan hal yang sama pada Efendi membuatnya merasa sangat lucu.

Kita bisa mengartikan, Mei mengenal laki-laki serupa Efendi itu pada waktu ia berada di Indonesia. Kelakuan ‘bodoh’ Efendi adalah sebuah kebiasaan yang dilakukan laki-laki Indonesia kebanyakan. Di sini kita menemukan kenyataan, tokoh Mei secara tersirat punya kerinduan yang mendalam terhadap Indonesia. Ia sempat berujar, hampir sepuluh tahun ia tak tertawa serupa ini.

‘Cincin kawin’ membuat Mei terkenang juga pada seseorang yang sempat dikenalnya dulu. Seseorang yang sangat mungkin adalah kenalan Mei ketika masih ada di Jakarta. Ingatan itu membawa kebahagiaan yang diungkapkan Mei lewat tawa berkepanjangan. Kenangan akan Jakarta (Indonesia) membahagialan Mei. Namun, kalimat akhir cerpen tersebut; sepanjang jalan terdengar serupa gerimis yang sederhana, menyimbolkan sesuatu yang menyakitkan.

Gerimis bisa menyimbolkan bermacam-macam hal. Gerimis bisa menyimbolkan sesuatu yang jelek, sesuatu yang membawa ketidak-bahagiaan. Gerimis dengan simbol seperti itu ada dalam puisi Chairil Anwar, “Senja di Pelabuhan Kecil”. Di puisi itu, Chairil menggambarkan gerimis sebagai faktor yang membuat hari cepat menjadi malam. Rupa-rupanya, ‘gerimis’ yang serupa bisa diberlakukan juga terhadap ‘gerimis’ dalam cerpen ini. Gerimis menggambarkan kegetiran, sebuah kegetiran yang sederhana, sebuah kegetiran tak berarti, sebuah kegetiran kecil yang mungkin sekali akan dilupakan oleh bangsa ini.

 

Penutup

Bila kita masih percaya karya sastra sebagai manifestasi kenyataan hidup, maka cerpen “Gerimis yang Sederhana” mengingatkan kita pada para korban tragedi Mei 1998 yang entah tersebar di penjuru dunia mana saja sekarang. Ketakutan dan trauma berkepanjangan seperti dirasakan oleh tokoh Mei dalam “Gerimis yang Sederhana”, mungkin menahan bahkan mematikan rasa rindu mereka pada Indonesia.

Karena nila setitik, rusak susu sebelanga. Pepatah lama ini mungkin bisa menggambarkan memori korban Mei 1998. Betapa begitu banyak kenangan manis dan kehidupan indah di Indonesia khususnya Jakarta yang sempat mereka rasakan, hilang menjadi dendam dan kebencian tak terkira lantaran peristiwa mengerikan yang terjadi dalam tiga hari saja.

Membaca “Gerimis yang Sederhana” kita diingatkan pada peristiwa sejarah yang menakutkan dan memalukan itu. Maka, sebagai sebuah karya sastra Memorria Passionis, cerpen ini telah menjalankan tugas dan fungsinya dengan baik. Setidak-tidaknya hati nurani kita, para pembaca, diketuk dan diingatkan, bangsa kita pernah melakukan kesalahan besar pada sesamanya sendiri dan tentunya janganlah lagi kita ulangi.

 

Daftar Bacaan

Anwar, Rosihan. Sejarah Kecil, Pettite Historie. (Jakarta: Penerbit Buku Kompas). 2003.
Damono, Sapardi Djoko. Sosiologi Sastra: Sebuah Pengantar Ringkas. (Jakarta: PPPB Depdikbud). 1984.
Escarpit, Robert. Sosiologi Sastra. (Jakarta: Yayasan Obor Indonesia). 2005.
Kurniawan, Eka. “Gerimis yang Sederhana”. Kompas, Minggu, 16 Desember 2007.
Mantik, M. Josephina Kumaat. Gender Dalam Sastra. (Depok: WWS). 2006.
Setiono, Benny G. “Apa Kabar Tragedi Mei 1998”. Suara Pembaruan, 13 Mei 2004.
Taum, Yoseph Yapi. “Memoria Passionis Sastra”. Kompas, 05 Juni 2007.

[1] Gerimis yang Sederhana dipublikasikan di Harian Umum Kompas edisi hari Minggu, 16 Desember 2007.
[2] Kutipan dari baris ke baris ke-2 sampai 5, paragraph dua, cerpen “Gerimis yang Sederhana”, Eka Kurniawan, Kompas, 16 Desember 2007, hal. 26.
[3] Dikutip dari artikel “Apa Kabar Tragedi Mei 1998” oleh Benny G. Setiono, Suara Pembaruan 13 Mei 2004.
[4] Op cit, Kurniawan, 2007.
[5] Kata ‘eksil’ biasanya memang hanya ditujukan pada mereka-mereka yang tinggal atau terasing dari negerinya sendiri dengan alasan politis. Kata eksil di sini saya pinjam untuk penyebutan-penyebutan terhadap mereka yang akhirnya tinggal jauh dari tanah air mereka sendiri, akibat kekerasan dan lain sebagainya, sama seperti tokoh Mei.
[6] Op cit, Kurniawan, 2007.


*Catatan: Tulisan ini dibuat sebagai tugas di salah satu matakuliah ketika saya berkuliah di Program Studi Jerman, FIB UI. Nama matakuliahnya saya sudah lupa. Sebelumnya sudah saya publikasikan di blog pribadi yang lama, kecoamerah, pada 07 Januari 2008.

Please follow and like us:

Post Comment

RSS
Instagram