Perbincangan perihal kebenaran sesungguhnya setua usia filsafat itu sendiri. Ia ada dan memicu perhatian semua yang mendaku filsuf sejak Thales termenung diri di bibir pantai Laut Tengah, Mediterania hingga Stephen Hawking berbicara tentang delusi Tuhan dari kursi rodanya. Di luar filsafat, kebenaran pun kerap muncul, bahkan terus mengusik kehidupan manusia. Atau dengan kata lain, manusia dalam kehidupannya, sadar atau pun tidak, sungguh dekat dan dipengaruhi dengan sangat oleh kebenaran. Setiap segi kehidupan manusia tentu bersinggungan dengan perihal kebenaran. Entah hukum, pendidikan, perekonomian, dsb.

Namun ketika bertanya tentang apa itu kebenaran, kerapnya sulit dijawab dengan gampang. Tentu saja di dalam kehidupan sehari-hari manusia bisa gampang menjawabnya. Kaum beriman tertentu misalnya akan dengan gampang menjawab bahwa kebenaran adalah segala yang datang dari Tuhan. Dan mereka tak perlu peduli menjelaskan perihal teologisnya. Itu tugas para teolog. Ada dua kecenderungan dewasa ini sesungguhnya ketika kita membicarakan kebenaran. Di satu pihak, kebenaran dianggap sudah tidak relevan lagi lantaran relativisme skeptis yang menolak segala bentuk klaim kebenaran. Di pihak lain, kita pun tak bisa menutup mata pada klaim kebenaran yang begitu rupa muncul dalam masyarakat. Ada kelompok tertentu, katakanlah fundamentalisme agama, yang begitu keukeuh sebagai pemegang kebenaran; kebenaran merekalah satu-satunya yang benar. Tak jarang, atas nama kebenaran itu yang lain disingkirkan.[1]

Para filsuf sejak dahulu kerap memperdebatkan perihal kebenaran ini. Ketika membicarakan kebenaran maka mencakup di sana konsep-konsep tertentu pula tentang kebenaran itu. Terkadang pula membicarakan kebenaran adalah membicarakan perihal ontologi, terkadang epistemologi, dan juga terkadang penggabungan antara keduanya. Demikian Michael P. Lynch, “when philosophers ask what truth is, they are interested sometimes in the concept, sometimes in the underlying nature of property, and sometimes in both”[2].

Salah satu yang menarik di dalam filsafat beberapa tahun terakhir ini menurut penulis adalah perdebatan seputar realisme dan anti realisme. Dalam tulisan singkat ini penulis akan mencoba melihat secara selayang pandang perbedaan cara melihat kebenaran dari realisme dan anti realisme. Untuk itu pertama penulis akan mencoba membahas secara singkat diskursus tentang kebenaran di era modem. Selanjutnya, kedua, penulis akan membahas perihal kebenaran menurut realisme. Pada bagian ini, penulis akan mencoba masuk pada perihal anti realisme jika dibutuhkan. Tulisan ini kemudian akan ditutup dengan sedikit kesimpulan dan refleksi

Sekilas Perihal Kebenaran

Kerapnya, di dalam filsafat semenjak Plato, dikenal ada dua kebenaran yakni kebenaran subyektif dan kebenaran obyektif. Keduanya adalah implikasi dari pembedaan Plato atas episteme dengan doxa. Episteme lebih merupakan pengetahuan sedangkan doxa lebih pada opini. Lebih jauh, Plato memberi tempat pada idea yang mana berasal dari Idea Absolut. Di sini pada akhirnya kecurigaan pada segala yang bersifat pertimbangan nilai terjadi. Yang diutamakan dan dipegang teguh adalah pengetahuan ilmiah yang berlandaskan pada metode ilmiah.[3]

Dengan pembedaan Plato ini pada akhirnya kita menemukan adanya pandangan curiga terhadap segala sesuatu yang bersifat material. Plato membagi bagian tubuh di mana yang paling mulia adalah bagian dada ke atas dan yang remeh temeh adalah bagian perut ke bawah. Episteme meletak pada bagian tubuh atas. Dengan pembedaan ini juga Plato memunculkan pemikirannya tentang filsuf raja; orang yang bijaksanalah yang baik sebagai pemimpin. Episteme dan lebih lanjut renungan-renungan filosofis menjadi lebih mulia tinimbang hal-hal praktis dan material. Di sini Plato ‘menyelesaikan’ upaya para filsuf alam yang mencari pendasaran segala sesuatu dari alam itu sendiri (seperti Thales dengan air, Herakleitos dengan perubahaan atau gerak, dsb.) dan menggantinya dengan Idea yang tidak berpijak pada sesuatu yang material. Tidak heran, pasca Plato (terkhusus dengan Neoplatonisme), dunia pemikiran filsafat menjadi pelayan bagi teologi di era selanjutnya. Kebenaran dengan demikian tidak berpijak pada fakta duniawi melainkan bersumber dan bermuara pada sesuatu yang intra-duniawi.

Barulah pada awal mula Aufklarung panorama ini sedikit berubah. Rene Descartes muncul dengan pemikiran bahwa veritas (kebenaran) adalah adaequatio intellectus ad rem (korespondensi antara proposisi dan fakta). Artinya, kebenaran disebut sebagai kebenaran apabila realitas atau fakta berkorespondensi dengan pikiran atau proposisi. Jika realitas tidak sesuai dengan pikiran atau realitas tidak bisa ditangkap oleh pikiran ia tidaklah benar (untuk yang pertama) atau ia dianggap tidak ada sama sekali (untuk yang kedua). Jadi yang paling penting di sini adalah pikiran dan bukan kenyataan atau realitas. Kepatuhan atas metode memberi kepastian akan klaim-pengetahuan. Jadi di sini, metode sangat penting untuk melihat atau mencapai kebenaran. Kebenaran menjadi sebuah pengetahuan jika taat pada metode.

Dalam sejarah filsafat modern kita tahu bahwa Rene Descartes berada pada aliran rasionalisme. Aliran ini dengan demikian dalam perihal kebenaran tampaknya condong mengutamakan pemikiran (subyek pemikirnya) sebagai yang lebih penting. Obyek (obyek pemikiran) tidaklah penting. Di seberang rasionalisme kita tahu ada kubu empirisisme. Salah satu pemikir empirisisme adalah George Berkeley. Kira-kira, empirisisme berpegang bahwa sesuatu itu benar jika ia bisa terinderai. Berkeley mengatakan demikian, “esse ist percipi” (ada adalah terinderai). Dengan demikian, apa yang tidak terinderai sama dengan tidak ada. Ketika kita menginderai adanya sebuah buku, maka muncullah ide tentang buku tersebut. Lantas, ide tentang buku itu berasal dari indera manusia atau dari buku itu sendiri? Menurut Berkeley, ide tentang buku berasal dari diri si pengindera.[4]

Dengan demikian bisa kita tarik kesimpulan bahwa baik rasionalisme maupun empirisisme sama-sama menaruh titik tolak utama pada manusia, makhluk yang berpikir, atau subjek pemikir dalam hal kebenaran. Kebenaran tidak bertumpu terutama pada obyek atau material dunia, melainkan pada pemikiran manusia itu sendiri. Edmund Husserl di kemudian hari memberi tempat pada obyek pemikiran. Bagi Husserl pengetahuan dimungkinkan oleh intensionalitas dari obyek kepada subyek. Slogan Husserl yang terkenal adalah, “kembalilah pada benda itu sendiri” (zuruck zu den Sachen Selbst). Jadi, pada Husserl kita menemukan semacam ada hubungan antara obyek dan subyek.

Ide Husserl ini kerap dianggap sebagai sebuah usaha untuk melihat obyek atau benda itu. Tetapi menurut kritik yang dilancarkan Tran Due Thao, Husserl sebenamya tidak bermaksud untuk menitikberatkan pada benda atau obyek. Husserl berusaha untuk melihat korelasi antara obyek dan subyek yang mungkin atau bagaimana korelasi itu bekerja.[5] Dengan demikian, pemikiran Husserl ini sesungguhnya juga hanya mengakui obyek yang mungkin diketahui manusia. Jika pengetahuan atau kebenaran itu adalah intensionalitas antara obyek dan subyek atau obyek yang memberikan dirinya pada subyek, maka di sini subyek masih punya peranan yang tidak bisa dikatakan lebih lemah dari subyek pada pemikiran rasionalisme dan empirisisme.

Pemikiran Husserl yang muncul di periode Perang Dunia I ini lantas mewarnai hampir seluruh perkembangan filsafat barat sejak itu; dimulai dari kebenaran sebagai ketersingkapan dari aletheia menurut Heidegger hingga pernikiran Jean Luc Marrion yang masih berkarya hingga saat ini. Sampai pada pemikiran Husserl ini memberi kita peluang untuk mernbicarakan realisme dan anti realisme. Setidaknya, sejak membahas secara sekilas Plato hingga Husserl, menampaklah pada kita bagaimana pemikiran, subyek yang berpikir, menempati posisi sentral dalam perbincangan. Sedangkan obyek pengetahuan, fakta duniawi, hanya sebagai sampiran; ia diakui ada tetapi tidak menjadi yang utama.

Realisme dan Anti Realisme Perihal Kebenaran

Ketertarikan penulis terhadap perihal realisme sesungguhnya diprofokasi oleh halaman pertama buku Materialisme Dialektis: Kajian Tentang Marxisme dan Filsafat Kontemporer karya Martin Suryajaya berikut,

Ada hantu bergentayangan di Eropa: hantu realisme. Berlapis-lapis filsuf abad ke-20 mencoba mengusirnya—hantu yang berbisik pada kita bahwa realitas obyektif yang eksternal dan independen dari subjek itu ada…. Inilah konsensus filsafat abad ke-20: eksorsisme atas hantu realisme.[6]

Dari kutipan di atas dan setelah melihat pembahasan di bagian sebelumnya tulisan ini, tampaklah pada kita apa yang terjadi jika obyek pemikiran ditempatkan pada posisi yang tidak terlalu penting dibandingkan dengan subyek pemikiran; perlahan-lahan menghilanglah keberadaan realitas obyektif yang eksternal dan independen dari subjek. Pertanyaan berikutnya yang perlu dijawab adalah apa itu realisme dan bersamaan dengan itu apa itu anti realisme. Start Brock dan Edwin Mares memaparkan karakteristik dari apa yang disebut dengan realisme sebagai berikut, “Realism about a particular domain is the conjunction of the following two theses: (i) there are facts or entities distinctive of that domain, and (ii) their existence and nature is in some important sense objective and mind-independent. Let us call the first thesis the “existence thesis” and the second thesis the “independence thesis”[7].

Sumber: https://srv-1.eden-gallery.com/2022/01/24/61ee7e91b216a-Bailarina-Maya-196-x-285-cm-1.png

Dari kutipan ini kita menemukan ada dua hal yang penting dalam realisme yakni tesis keberadaanya dan tesis keindependenannya. Realisme adalah pengakuan akan keberadaan  entitas-entitas dan keindependenan entitas-entitas tersebut; independen dari pemikiran. Lebih lanjut, realisme dijelaskan sebagai berikut oleh Miller sebagaimana dikutip oleh Brock dan Mares,

There are two general aspects to realism, illustrated by looking at realism about the everyday world of macroscopic objects and properties. First, there is a claim about existence. Tables, rock, the moon, and so on, all exist, as do the following facts: the table’s being square, the rock being made of granite, and the moon’s being spherical and yellow. The second aspect of realism about the everyday world of macroscopic object and their properties concerns independence. The fact that the moon exist and is spherical is independent of anything anyone happens to say or think about the matter.[8]

Penjelasan mengenai realisme yang diungkapkan di atas merupakan penjelasan yang paling tradisional. Pernyataan Hilary Putnam, menurut Karlina Supelli, adalah pernyataan yang paling mendukung realisme sekaligus membuatnya mendapat tantangan yakni, “realisme adalah satu-satunya filsafat yang membuat kesuksesan ilmu bukan merupakan keajaiban[9]. Mengapa ilmu menjadi bukan keajaiban karena ilmu itu sendiri berasal atau paling tidak ada lantaran bantuan pikiran manusia. Sedangkan kebenaran yang hendak dicari oleh ilmu itu sendiri sudah ada tanpa ilmu membahasnya.

Realisme sendiri ada banyak aliran. Hillary Putnam misalnya dikenal dengan realisme internal, ada juga realisme metafisis, realisme kritis dari Roy Bhaskar, realisme struktural, dsb. Namun setidaknya dari pemahaman yang tradisional di atas ada poin penting yang bisa kita petik yakni tesis keberadaan dan tesis independennya. Inilah yang membedakannya dengan anti realisme, yang juga rumit karena punya beragam aliran di dalamnya. Sehingga bisa dikatakan anti realisme bisa tidak berpegang pada salah satu dari kedua tesis itu atau kedua tesis tersebut atau variasi dari keduanya.

Berpegang dari dua karakter tradisional realisme di atas, kita juga bisa membedakan kebenaran antara realisme dan anti realisme. Kita ambil contoh teori kebenaran sebagai korespondensi. Kebenaran sebagai korespondensi, seperti yang bermula dari Descartes, menyatakan bahwa sesuatu benar jika dan hanya jika fakta berkorespondensi dengan pikiran. Ini tentu adalah salah satu bentuk dari anti-realisme. Karena di sini tidak ditemukan tesis keberadaan dan tesis independensi sebagai karakter realisme tersebut. Sedangkan realisme tentu menolak teori korespondensi ini. Realisme menerima sesuatu itu benar terlepas dari pikiran manusia.

Realisme juga melihat kebenaran melalui bahasa. Kalimat adalah cara untuk mengungkapkan kebenaran itu. William P. Alston melandaskan pendapat ini pada apa yang dikatakan Aristoteles jauh sebelumnya yakni, “to say of what is that it is and of what is not that it is not is true[10] Lebih lanjut menurut Alston bahwa tidaklah mudah memformulasikan bagaimana menyatakan sesuatu sebagaimana adanya dia. Menurut Alston konsepsi kebenaran realis adalah bahwa suatu pernyataan itu benar karena ada sesuatu yang obyektif berhadap-hadapan dengan pernyataan itu dan bahwa nilai kebenaran dari pernyataan tersebut terletak pada dunia yang melampaui atau ada di luar pernyataan itu dan bukan terletak pada pernyataan itu sendiri.[11]mTentu saja dengan cara dan pemahaman tentang kalimat yang tertentulah pada akhirnya Alston menjelaskan bagaimana cara mengatakan sesuatu itu benar.

Problem kebenaran melalui bahasa ini merupakan sebuah pembahasan yang cukup rumit di dalam realisme sendiri, terlepas dari memang perdebatan realisme dan aliran-alirannya serta anti-realisme adalah sebuah perdebatan yang teramat rumit terutama bagi para pembaca filsafat yang terbiasa dengan filsafat kontinental. Namun demikian, melalui William P. Alston di atas setidaknya kita menemukan bahwa pemyataan, kalimat, atau bahasa menjadi benar bukan karena bahasa itu sendiri melainkan pada dunia yang berada di luar bahasa itu sendiri dan juga bahwa ada sesuatu yang obyektif yang ada di depan bahasa atau yang diungkapkan rnelalui bahasa itu.

Penutup

Demikianlah kita sudah melihat perihal kebenaran menurut aliran realisme. Apa yang dilakukan pada bagian kedua tulisan ini di bawah sub judul “Sekilas Perihal Kebenaran” sesungguhnya sudah menunjukkan pada kita bahwa mayoritas pemikiran dalam filsafat di era modem sebenarnya tidak terlalu memberi tempat pada realisrne. Hal ini bertumpu pada argumen bahwa pemikiran yang dibahas pada sub bab tersebut bertumpu pada penekanan akan subyek berpikir dan bukan pada obyek yang dipikirkan sebagai penentu kebenaran. Hal ini dimulai dari Descartes dan juga bisa kita tangkap muasalnya pada Plato.

Setelah melihat panorama tersebut, kita sudah sedikit banyak berupaya memahami apa itu realisme. Sejauh ini kita punya dua pegangan secara tradisional bahwa realisme percaya pada keberadaan entitas dan keberadaan entitas itu independen dari pemikiran. Di dalam pembahasan mengenai realisme tersebut kita juga sedikit membahas perihal kalimat atau pernyataan yang dianggap benar seturut realisme melalui pemikiran William P. Alston. Setidaknya di sana, Alston menyatakan bahwa sebuah pemyataan benar bukan karena pernyataan itu sendiri melainkan nilai kebenarannya terletak pada dunia yang melampaui pemyataan itu sendiri dan juga bahwa kebenaran sebuah pernyataan terletak pada obyektivitas sesuatu yang berhadapan dengan kalimat itu.

Kebenaran seturut realisme dengan dernikian adalah kebenaran yang ada di luar sana dan independen dari pemikiran. Dengan demikian sesuatu itu benar tanpa ada seseorang berpikir tentang kebenaran dari sesuatu itu. Hal ini pada hemat penulis mengikis relativisme yang sesungguhnya berbahaya pada pencarian kebenaran itu sendiri. Beberapa waktu yang lalu dan bahkan sampai saat ini kita masih melihat sesuatu sebagai yang alternatif untuk melawan hegemoni. Namun terkadang atas nama yang alternatif dan di luar hegemoni tersebutlah relativsme kebablasan bisa bertumbuh subur. Pada hemat penulis, kebenaran a la realisme ini tidak hanya mengantisipasi kebablasan kebenaran yang relativisrne sehingga sesiapa saja berhak punya kebenara sendiri-sendiri tetapi ia juga mampu menjadi lawan atas hegemoni kebenaran tanpa perlu ia bersifat hegemonik.

Kebenaran ada di luar pemikiran dengan demikian memberi sebuah kebenaran tunggal yang bisa dirujuk bersama dan bebas dari bias nilai. Kenapa bebas dari bias nilai karena ia terlepas dari pemikiran manusia. Ia juga melawan hegemoni karena kebenaran yang bersifat hegemoni menjadi berbahaya ketika sewenang-wenang. Lagi-lagi, kesewenang-wenangan adalah sebuah bentuk kebenaran berdasarkan pemikiran. Dengan begitu, secara praktis sosiologis, kebenaran a la realisme memungkinkan perjuangan menegakan keadilan karena merujuk pada sebuah kebenaran yang independen dari subjek manusia.

Daftar Bacaan
Brock, Stuart dan Edwin Mares. Realism and Anti-Realism. Durham: Acumen, 2007.
Hadi, F. Suryanto. “Realisme Internal: Suatu Jalan Tengah antara Realisme Metafisis dan Skeptisisme,” Jurnal Filsafat Driyarkara, Th. XXIX No. 2/2007 (2007): 39-47.
Lynch, Michael P, ed. The Nature of Truth: Classic and Contemporary Perspectives. London: The MIT Press, 2001.
Sudarminta, J. “Diskursus tentang Kebenaran: Dari Fenornenologi Husserl sampai ke Dekonstruksi Derrida,” Jurnal Filsafat Driyarkara, Th. XXIX No. 212007 (2007): 1-9.
Supelli, Karlina. “Bingkai Kurus Realisme Struktural Epistemik,” Jurnal Filsafat dan Teologi Diskursus, Volume 12, Nomor 2, Oktober 2013 (2013): 153-190.
Suryajaya, Martin, Materialisme Dialektis: Kajian Tentang Marxisme dan Filsafat Kontemporer. Yogyakarta: Resist Book, 2012.

[1] Penjelasan lebih jauh tentang dua kecenderungan perihal kebenaran ini, lih. J. Sudarminta, “Diskursus tentang Kebenaran: Dari Fenomenologi Husserl sampai ke Dekonstruksi Derrida,” Jurnal Filsafat Driyarkara, Th. XXIX, No. 212007, hlm. 1-2.
[2] Michael P. Lynch, “Introduction: The Mystery of Truth”, dalam Michael P. Lynch (ed.), The Nature of Truth: Classic and Contemporary Perspectives, (London: The MIT Press), 2001, hlm. 3.
[3] F. Suryanto Hadi, “Realisme Internal: Suatu Jalan Tengah antara Realisme Metafisis dan Skeptisisme,” Jurnal Filsafat Driyarkara, Th. XXIX, No. 2/2007, hlm. 39-40.
[4] Martin Suryajaya, Materialisme Dialektis: Kajian Tentang Marxisme dan Filsafat Kontemporer, (Yogyakarta: Resist Book), 2012, hlm. 24-25.
[5] Lebih lanjut perihal pemikiran Edmund Husserl dan bagaimana Tran Due Thao mengkritiknya, silahkan periksa Martrin Suryajaya, Materialisme Dialektis…. hlm. 167-211.
[6] Martin Suryajaya, Materialisme Dialektis…, hlm.1.
[7] Stuart Brock dan Edwin Mares, Realism and Anti-Realism, (Durham: Acumen), 2007, hlm. 2.
[8] Stuart Brock dan Edwin Mares, Realism and Anti-Realism…, hlm. 4.
[9] Karlina Supelli, “Bingkai Kurus Realisme Struktural Epistemik,” Jurnal Filsafat dan Teologi Diskursus, Volume 12, Nomor 2, Oktober 2013, hlm. 155.
[10] Sebagaimana di dalam William P. Alston, “A Realist Conception of Truth,” dlm Michael P. Lynch (ed.), The Nature of Truth…, hlm. 41.
[11] What it takes to render a statement true is something that is objective vis-a-vis that statement, namely, a fact involving what the statement is about. The truth value of the statement depends on how it is with “the world” “beyond” the statement rather than on some feature of the statement itself. William P. Alston, “A Realist Conception of Truth”…, hlm. 41.


*Catatan: Tulisan ini merupakan makalah mata kuliah Kebenaran, Masikah Bernilai? di Program Magister STF Driyarkara, Desember 2014.

Please follow and like us:

Post Comment

RSS
Instagram