“Awas bahaya laten komunis”. Kalimat ini berkumandang begitu lama dan merasuk ke dalam alam bawah sadar masyarakat Indonesia, setidak-tidaknya di zaman Orde Baru. Sejarah standar penguasa kala itu menempatkan komunis sebagai ‘pengkhianat’ bangsa dengan kisah-kisah penuh kebejatan dan kejahatan kejam yang dilakukannya pada kelima jenderal. Tak perlu bersusah payah untuk mencari, semua tuduhan atas komunisme di Indonesia ini dipicu oleh peristiwa yang kita kenal pada masa Orde Baru sebagai Pengkhianatan G30S/PKI[1].

Lumrah diketahui bahwa komunisme menjadi bagian dari pertikaian Perang Dingin antara Paktawarsawa dan NATO pasca Perang Dunia II; komunisme adalah ideologi dari mereka yang tergabung dalam Paktawarsawa. Maka, mau tak mau, persoalan komunisme di Indonesia mendapat sumbangan pula, sedikit mau pun banyak, dari pertikaian bertaraf dunia ini. Pun pula, komunisme sendiri, sebagaiamana juga demokrasi, humanisme, sosialisme, bahkan agama monotheis, bukanlah sebuah produk ‘aseli’ Indonesia. Mereka adalah istilah impor—tentu saja ada dari beberapa hal impor ini diterjemahkan di Indonesia dalam kebutuhan Indonesia sendiri—dari ‘dunia global’ di luar Indonesia. Maka, membicarakan masalah komunisme di Indonesia tak bisa tidak adalah membicarakan Indonesia sebagai satu bagian dari sebuah dunia. Pun pula membicarakan hal-hal lainnya semisal demokrasi, kristen, atau pun islam. Untuk yang terakhir, kita tentu saja membicarakannya dalam rangka perkembangan nusantara sebelum kedatangan bangsa barat, perkembangan perdagangan bangsa-bangsa nusantara dengan Arab dan juga Cina.

“Socialism in London”, A sketch in Hyde Park on Sunday afternoon | Sumber: http://www.life.com/im- age/92924648

Oleh karena itu dalam tulisan ini kita akan, pertama menggambarkan munculnya Partai Komunis Indonesia dalam rangkaiannya dengan kehadiran penjajahan atau kolonialisme atas Indonesia. Kedua, melihat kehadiran Partai Komunis Indonesia sebagai sebuah konsekuensi dari perjalalanan sejarah Indonesia modern. Kita juga pada bagian ini akan membahas sedikit perjalanan Partai Komunis Indonesia ini. Yang ketiga, bagian kesimpulan, kita akan mempertegas kemunculan dan kehancuran Partai Komunis Indonesia sebagai konsekuensi sejarah Indonesia modern, dan karena terma modern ini, ia menjadi bagian dari keadaan dunia global serta mencoba melihat keadaan tema komunisme sekarang di Indonesia dengan tema komunisme di dunia internasional.

Munculnya Partai Komunis Indonesia[2]

Jika hendak mencari faktor utama apa yang membawa komunisme ke Indonesia, kita bisa mengatakan bahwa faktor utama itu adalah sumber material bumi Nusantara yang menggiurkan negara-negara barat. Atau dengan lebih singkat bisa dikatakan, komunisme menjadi mungkin datang ke Indonesia oleh karena imperialisme. Di sini kita melihat sesuatu yang kontradiktif. Imperialisme yang sangat-sangat nyata adalah sebuah usaha mencari bahan baku untuk industri dan juga pasar baru untuk negara Eropa[3]; sebuah usaha yang sangat bersifat kapitalistik, membawa pula faham yang pada semangatnya sangat berusaha melawannya.

Seperti paparan Denys Lombard[4] bahwa Indonesia banyak mengimpor ide-ide dari barat seperti revolusi, demokrasi, humanisme, dan komunisme. Tak lain dan tak bukan, monopoli dagang VOC dan penjajahan kerajaan Belanda atas Indonesia-lah yang memungkinkan masuknya ideologi dan faham-faham tertentu dari barat ini ke Indonesia. Bukan penjajahan an sich yang menyebabkan hal itu, melainkan dampak serta hal-hal kecil penyertanyalah yang lebih berperan dalam penyebaran faham dan ideologi barat ini di Indonesia, terkhusus faham-faham yang melawan penjajahan itu sendiri. Salah satu hal yang menyertai penjajahan Kerajaan Belanda yang berpengaruh pada penyebaran ideologi dan perubahan masyarakat di Indonesia adalah datangnya ke Indonesia individu-individu orang Belanda yang punya perhatian dan usaha khusus terhadap penyebaran ideologi-ideologi atau agama yang dihayati dan dipegang oleh mereka[5].

Sejarah munculnya Partai Komunis Indonesia tidak bisa dilepaskan dengan Partai Buruh Sosial Demokrat Belanda (SDAP). Salah satu mantan anggota SDAP bernama Hendricus Josephus Franciscus Marie Sneevliet (pemimpin Serikat Buruh Kereta Api Belanda, organisasi yang berada di bawah SDAP) bisa kita kategorikan ke dalam orang-orang Belanda yang mempengaruhi penyebaran ideologi komunisme dan perubahan masyarakat di Indonesia, seperti yang digambarkan Denys Lombard. Sneevliet tiba di Indonesia di zaman ketika radikalisme melawan penjajahan Belanda tengah berkembang pesat, terkhusus dalam tubuh organisasi bernama Sarekat Islam[6].

Henk Sneevliet Berpidato di Depan Istana Musim Dingin, Petrograd (1920).
Trotsky Menerjemahkannya Ke Dalam Bahasa Rusia | Sumber: https://marxists.catbull.com/archive/sneevliet/images/index.htm

Sneevliet datang ke Indonesia karena ia kehilangan pekerjaan di Belanda akibat kegiatan revolusionernya pada tahun 1912. Ia langsung berangkat ke Hindia Belanda. Beruntunglah ia bahwa pada saat itu di Hindia Belanda, tenaga-tenaga intelektual sedang dibutuhkan dan latar belakang politik tidak menjadi sebuah pertimbangan penting waktu itu. Ia pun berhasil mendapatkan pekerjaan. Di waktu itu pun di Hindia Belanda sudah banyak pekerja-pekerja Belanda dengan latar belakang politik sosialisme. Salah satunya adalah D.M.G. Koch yang setelah mundur dari jabatannya sebagai sekretaris asosiasi dagang di Semarang menunjuk Sneevliet sebagai penggantinya. Ketika itu, Semarang adalah pusat Serikat Buruh Kereta Api Indonesia (VSTP). Sneevliet bergabung dengan organisasi yang terbuka bagi buruh Belanda mau pun Indonesia itu. Tahun 1914, Sneevliet merangkap kerja sebagai sekretaris asosiasi dagang dan juga editor koran VSTP bernama De Volhading. Ia juga belajar bahasa Jawa dan Melayu dalam rangka menyebarkan sosialisme. Pada 9 Mei 1914 atas prakarsa Sneevliet, 60 orang sosial demokrat belanda berkumpul di Surabaya dan mendirikan Indische Social-Democratische Vereiniging (ISDV).

ISDV yang baru ini berisi orang-orang yang pada awalnya merupakan anggota SDAP di Belanda yang datang dan bekerja di Indonesia. Sedari awal, sudah berkembang dua pandangan berbeda di antara anggota partai baru ini; ada yang memilih—mengikuti SDAV di Belanda—mendukung Politik Etis pemerintah kolonial sedangkan kelompok lainnya yang lebih kuat berpendapat untuk menerapkan prinsip-prinsip revolusioner. Koran partai, Het Vrije Woord, muncul pertama kali pada Oktober 1915 dalam bahasa Belanda dan dua tahun kemudian muncul pula koran berbahasa Indonesia-nya. Koran ini lantas mendapat pujian dari kaum pergerakan Indonesia ketika mereka memberikan pernyataan yang mendukung pergerakan Indonesia; 1. Pandangan mereka atas penahanan wartawan Indonesia Mas Marco Kartodikromo dan, 2. Isu kampanye Persenjatai Indonesia, kampanye untuk membentuk milisi Indonesia di bawah komando Belanda.

Meski pun menyatakan diri sebagai suara partai, sebenarnya koran ini lebih menyuarakan pendapat faksi revolusioner dalam partai tersebut. Dua orang editor koran itu sekaligus agitator, Sneevliet dan Adolf Baars mendapat perlawanan dari banyak anggota partai lainnya. Kedua orang ini adalah tokoh penting dalam transformasi ISDV menuju Partai Komunis Indonesia. Baars juga memprakarsai berdirinya koran sosialis Indonesia Soeara Merdika pada 1917 yang berhenti terbit setahun setelahnya. Baars lantas mendorong munculnya koran Soeara Ra’jat yang belakangan menjadi jurnal teori Partai Komunis Indonesia. Pada titik ini, ISDV masihlah dipenuhi oleh orang Belanda yang ada di Hindia Belanda yang dahulunya adalah mantan anggota Partai Sosialis di Belanda.

Awalnya, ISDV bekerja sama dengan Insulinde, sebuah organisasi Eurasia yang menekankan pada nasionalisme Hindia. Insulinde terbentuk akibat sakit hati kaum peranakan terhadap elitisme Eropa yang terjadi bersamaan dengan meningkatnya pekerja pribumi yang bias dibayar murah sehingga mereka mulai terdepak. Namun demikian, dirasakan bahwa kerja sama dengan Insulinde ini tidak membuahkan hasil yang berarti. ISDV pun mulai melirik sebuah organisasi dengan kekuatan politik yang mengerikan saat itu yakni Sarekat Islam.

Melalui kerja sama dengan Sarekat Islam (SI) inilah, meskipun memang tak berjalan sangat mulus, ISDV mendapatkan banyak anggota-anggota muda pribumi Indonesia yang radikal. Salah satu yang paling terkenal dan muncul dalam usia sangat muda adalah Semaun yang pada umur 17 tahun, pada 1916, sudah memulai karier politiknya. Masuknya ISDV dalam SI dimungkinkan oleh beberapa hal. Salah satunya adalah adanya penilaian dari para pemimpin ISDV sendiri bahwa SI adalah sebuah organisasi dengan karakter yang mampu menerima pikiran-pikiran sosialisme. Baars mengatakan demikian:

Kita cukup sadar mengenai kelompok ini, yang walau pun pandangan mereka tidak cocok dengan pandangan sosialis tetapi jauh lebih bisa menerima pandangan baru daripada pandangan borjuis. Ini berarti suatu kemajuan luar biasa bagi masyarakat Pribumi, jika saja hal itu membawa kesadaran diri dan pemikiran merdeka. Tetapi bagaimana pun, seperti pengalaman dengan Insulinde, dalam kondisi yang demikian sulit melakukan misi propaganda kita.

Pada kongres I SI pada Juni 1916, Semaun yang waktu itu sudah menjadi anggota ISDV dan juga sekaligus anggota SI, berpidato namun pidatonya dipotong setelah berjalan beberapa menit. Memang masih ada ketakutan dalam SI akan sesuatu yang bersifat radikal. Namun kata ‘sosialisme’ kala itu sudah membumi dan secara sederhana diartikan sebagai, “perlawanan terhadap dominasi asing dan dukungan terhadap Indonesia yang modern, sejahtera, dan merdeka.”

Perbedaan antara Islam pada Sarekat Islam dan Marxisme pada ISDV tidak menjadi hambatan bagi keduanya untuk bersatu. Agama yakni Islam yang lebih menekankan aspek transendensi (wahyu) dan teosentris sedangkan marxisme yang materialisme historis dan lebih antroposentris. Penyatuan keduanya oleh Rumadi dinyatakan demikian[7]:

Perbedaan dasar filsafat ternyata tak menjadi penghalang adanya titik temu pada tingkat analisis sosial, yaitu kesamaan semangat pembebasan. Jika semangat pembebasan Marxisme sangat materialistik, duniawi dan sosial; semangat pembebasan agama malah tidak hanya pada aspek material tetapi juga pembebasan secara spiritual. Namun, sayangnya, selama ini agama terlalu menekankan pada pembebasan yang bersifat spiritual dan kurang peduli pada pembebabasan yang bersifat sosial material. Di situlah marxisme mampu memberi perhatian pada wilayah yang selama ini diabaikan oleh agama.

Jadi bisa kita gambarkan di sini demikian, menyangkut keadaan zaman ketika kerja sama ISDV dan SI bisa terjalin dengan baik. SI yang beranggotakan masyarakat Muslim, para terjajah yang bekerja di bawah penindasan Kompeni Belanda, menemukan sebuah janji pembebasan yang melengkapi janji pembebasan yang sudah mereka miliki dalam Sarekat Islam mereka. Dengan masuknya ISDV dengan janji pembebasan pada wilayah material dan sosial, bersambutlah mereka dengan semangat pembebasan pada wilayah teologis yang sudah didapatkan para anggota SI dalam organisasi mereka ini.

Adolf Baars | Sumber: digitalcollections.universiteitleiden.nl

Tentu tidak mudah masuknya ISDV ini ke dalam SI. Namun demikian, anggota-anggota muda dari pribumi yang sangat menonjol milik ISDV adalah mereka-mereka yang berasal dari SI ini. Dua yang paling menonjol adalah Semaun dan Darsono. SI yang sudah sangat menerima Marxisme dari ISDV ini pun pecah menjadi dua yakni SI Putih pimpinan Tjokroaminoto dan SI Merah garis Semaun.[8] SI Merah ini dalam perkembangannya menjadi sangat revolusioner dan salah satu kisah revolusioner paling mencolok sampai saat ini dari golongan ini adalah Pemberontakan Haji Merah Misbach pada 1919. Pemimpin pemberontakan ini, Hadji Misbach adalah pemimpin de facto Insulinde, anggota aktif SI, wakil ketua ISDV dan gerakannya juga didukung oleh Perhimpunan Kaum dan Buruh Tani (PKBT).

Namun demikian, banyak masalah yang terjadi juga dalam ISDV. Meruncingnya kaum sosial demokrat yang lebih condong mengikuti keinginan pemerintah Belanda atau yang lebih menekankan perintah dari Partai Sosial di Belanda dengan kaum revolusioner yang menuntut pendidikan rakyat pribumi demi revolusi di tanah mereka sendiri, persoalan revolusi Russia yang sedikit banyak memberi semangat bagi kaum revolusioner Belanda di Hindia Belanda (terutama Sneevliet dan Baars) juga mewarnai perjalanan ISDV dalam masa ini. Sneevliet akirnya diusir dari Hindia Belanda karena aksi agitasi dan propagandanya dan diikuti oleh Adolf Baars yang merasa kecewa karena revolusi Russia tak juga mempengaruhi Eropa apalagi Indonesia.

Kepergian kedua orang ini membuat ISDV yang revolusioner berada di bawah pengaruh pemimpin pribumi yang terkenal yakni Semaun dan Darsono. Bersamaan juga dengan itu ISDV semakin menuju corak yang revolusiner dan meninggalkan segi-segi kompromis mereka yang mana menjadi batu sandungan kaum revolusioner partai itu sendiri. Sedangkan di Eropa terjadi Internationale Kedua di mana saat itu terjadi perpecahan antara Karl Kautsky yang dikenal sebagai para revisionis marxisme dengan Lenin serta Luxemburg. Pada kala itu pun, 1919, Lenin membentuk Komintern. Maka SDAP Hindia memutuskan untuk mengganti nama mereka menjadi Indische Sociaal Demokratische Partij (ISDP) yang menunjukan dengan sangat corak sosial demokratnya. Ini membuat kedua partai tersebut (ISDV dan ISDP) tak bias dibedakan begitu saja karena bunyi V dan P pada bahasa Indonesia yang hampir mirip.

Didorong oleh kebetulan yang tak menguntungkan ini dan juga adanya dorongan untuk memiliki nama partai dalam bahasa sendiri maka menurut Alimin, salah satu pemimpin ISDV, wacana mengganti nama partai ke dalam bahasa Indonesia itu sudah muncul sejak 1919. Namun demikian, usaha ini mulai dilakukan pada 1920 lantaran para pemimpin orang Belanda yang pergi sedangkan dua pemimpin Indonesia, Semaun dan Darsono, berada dalam tahanan. Januari 1920 diadakan kongres 6 sebagai persiapan menuju Kongres 7 di bulan Mei. Dalam Kongres 7 tersebut agenda penting yang dibicarakan adalah perubahan nama partai menjadi Perserikatan Kommunist di Hindia. Baars mendukung usulan ini. Ia baru saja kembali ke Jawa dan dengan tegas mendukung usaha kawan-kawan partainya yang ingin memisahkan diri dari sosialis revisionis dan mendekatkan diri pada Komintern. Usulan ini pun bersambut dengan keinginan memiliki nama partai sendiri dalam bahasa Indonesia. Maka, pada 23 Mei 1920, ISDV berganti nama menjadi Perserikatan Komunis Hindia, sebuah partai komunis pertama di Asia yang tidak berbatasan langsung dengan Russia. Lantas pada 1924, namanya diubah lagi menjadi Partai Komunis Indonesia.

Terjemahan Lagu “Internationale” & “Mars Sosialis” Dalam Bahasa Melayu di “Sinar Hindia, 5 Mei 1920. Penerjemah: Suwardi Suryaningrat

Modernisasi Indonesia dan Partai Komunis Indonesia

Seperti yang sudah diutarakan pada awal tulisan ini bahwa komunisme, sama seperti banyak faham, agama monoteis, dan juga kepercayaan lainnya di Indonesia adalah hasil impor dari dunia global di luar sana. Hilangnya sekat ketertutupan suatu daerah dengan dunia yang lebih luas dalam artian tertentu bias kita katakana sebagai masuknya daerah itu ke dalam masa modern[9]. Maka, munculnya tema komunisme dalam kehidupan Indonesia sejak awal abad 20 merupakan sebuah corak dari daerah ini, Indonesia, memasuki era modern-nya.

Perjalanan menjadi Partai Komunis Indonesia dari ISDV sendiri bisa kita lihat sebagai sebuah perjalanan yang mencerminkan perjalanan pencarian Indonesia itu juga. Agak berbeda misalnya jika kita bandingkan dengan organisasi di mana Bung Hatta menjalankan politiknya yakni Indische Vereeniging. Indische Vereeniging adalah organisasi pemuda Indonesia yang ada di negeri Belanda. Sedangkan ISDV (Indische Sociaal-Democratische Vereiniging) adalah perhimpunan yang pada awalnya dibentuk oleh orang Belanda beraliran sosialis di Indonesia. Keduanya pada awalnya memang tak menggunakan kata Indonesia dalam nama keduanya. Namun demikian, ini adalah hal yang wajar di masa itu karena Indonesia sendiri belum dikenal luas sebagai sebuah nama.

Kesadaran perubahan nama dari ISDV menjadi Partai Komunis Indonesia adalah sepenuhnya keinginan dari kaum pribumi yang revolusioner dalam partai tersebut. Artinya, perjuangan partai ini ke depannya benar-benar tercurah pada perjuangan demi Indonesia. Partai Komunis yang pada awalnya adalah sebuah usaha dari orang-orang Belanda yang beraliran sosialis pada akhirnya menjadi sebuah alat perjuangan di mana di dalamnya dipenuhi oleh orang-orang pribumi sendiri. Namun demikian patut dilihat bagaimana keinginan dari orang-orang Belanda beraliran sosialis ini dalam rangka mengkampanyekan keyakinan mereka kepada orang-orang pribumi.

Sneevliet dan Baars adalah dua orang Belanda yang belajar bahasa Melayu dan fasih dengannya karena mereka sadar bahwa perjuangan yang sesungguhnya adalah perjuangan yang terlibat dalam keseharian rakyat yang diperjuangkan. Bandingkanlah Sneevliet ini dengan tokoh Minke di dalam Bumi Manusia-nya Pram misalnya yang mendapat kesadaran untuk berbahsa Melayu melalui orang Belanda yang lainnya. Artinya di sini, bukan masalah orang Belanda atau pun orang Pribumi, melainkan panggilan untuk berjuang terhadap sebuah ketidakadilan yang didasari oleh sebuah ideologi yang diyakini oleh orang tersebut.

Bahasa Melayu yang digunakan oleh Sneevliet dan Baars pada perjuangan awal mereka di Jawa nantinya pada 1928 ditetapkan sebagai bahasa nasional Indonesia, sebuah ciri khas lagi dari Indonesia modern yang tak mungkin dilepaskan dari para agitator ISDV ini yang dari mula sudah menggunakan bahasa tersebut sebagai bahasa perjuangan.

Che Guevara dan Sukarno

Penutup

Kemunculan Partai Komunis di Indonesia adalah sesuatu yang teramat wajar melihat silang sengkarut hubungan Indonesia dengan dunia barat yang mulai terjadi secara intens setelah Portugis menduduki Malaka. Komunisme sebagai sebuah faham yang sudah menyebar di Eropa dan juga Belanda tak bias begitu saja ‘dilarang’ untuk masuk ke Indonesia; sama seperti demokrasi, Kristen, dan juga humanisme yang tak bisa begitu saja dilemahkan kemungkinannya untuk masuk dan mempengaruhi Indonesia. Inilah sebuah konsekuensi logis dari pertemuan Indonesia dengan dunia barat.

Penyambutan baik yang terjadi terhadap komunisme di Indonesia pada awal kemunculannya melalui Sarekat Islam bisa kita lihat sebagai sebuah kecocokan paham ini dengan keadaan Indonesia saat itu. Penjajahan yang menjemukan dan kesejahteraan serta keadilan yang tak kunjung muncul membuat komunisme yang membawa semboyan ‘sama rata sama rasa’ menjadi sebuah wilayah perjuangan yang patut diperjuangkan pula oleh mereka yang  tertindas. Dimulai dari pergerakan buruh-buruh kereta api di Semarang hingga petani-petani revolusioner di pedalaman Jawa, menunjukan bagaimana komunisme mampu mendorong mereka yang selama ini tertindas dan merasa diri tak mampu berbuat banyak bisa bangkit dan menuntut hak-hak mereka.

Namun demikian, komunisme yang pada awalnya sudah membuat orang seperti Hadji Misbach memberontak atas Belanda itu pasca September 1965 ‘hilang’ dari muka bumi Indonesia. Bila kita memperhatikan fakta ini, sesungguhnya ia terjadi hampir bersamaan dengan hancurnya komunisme di internasional yang berpuncak pada Glasnot dan Perestroika di akhir 1980-an. Di sini kita melihat bagaimana berhubungannya kejadian dan kemunculan serta runtuhnya komunisme di Indonesia dan di dunia Internasional.

Daftar Bacaan:
Hiqmah, Nor, H.M. Misbach : Kisah Haji Merah, (Jakarta: Komunitas Bambu), 2008.
Lombard, Denys, Nusa Jawa : Silang Budaya : Batas-batas Pembaratan, Jilid I, diterjemahkan oleh Winarsih Partaningrat, Rahayu S. Hidayat, Nini Hidayati Yusuf, (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama dan Forum Jakarta-Paris), 2008.
McVey, Ruth T., Kemunculan Komunisme Indonesia, diterjemahkan oleh Tim Komunitas Bambu (Jakarta: Komunitas Bambu), 2009.
Onghokham, Sukarno Orang Kiri, Revolusi dan G30S 1965, (Jakarta : Komunitas Bambu), 2009.
Roosa, John, Dalih Pembunuhan Massal: Gerakan 30 September dan Kudeta Suharto, diterjemahkan oleh Hersri Setiawan (Jakarta: Institut Sejarah Sosial Indonesia dan Hasta Mitra), 2008.

[1] Pasca reformasi sebutan ini perlahan-lahan diubah oleh para sejarahwan. Asvi Warman Adam dan John Roosa adalah salah dua dari sekian banyak sejarahwan khusus sejarah Indonesia yang merevisi sebutan itu. Kini tak lagi digunakan peristiwa Pengkhianatan G30S/PKI melainkan peristiwa G30S. Ini menekankan pada masih simpang siurnya siapa pelaku dari peristiwa itu. Oleh John Roosa, beberapa anggota dan pemimpin dari PKI memang terlibat namun dengan keterlibatan mereka tidak bisa dikatakan bahwa PKI sebagai sebuah organisasi secara keseluruhan bertanggung jawab penuh pada peristiwa tersebut. Lih, John Roosa, Dalih Pembunuhan Massal : Gerakan 30 September dan Kudeta Suharto, diterjemahkan oleh Hersri Setiawan (Jakarta : Institut Sejarah Sosial Indonesia dan Hasta Mitra), 2008.
[2] Sebagian besar pemaparan dalam bagian ini bersumber dari : Ruth T. McVey, Kemunculan Komunisme Indonesia, diterjemahkan oleh Tim Komunitas Bambu (Jakarta : Komunitas Bambu), 2009, hal. 1-88. Jika ada sumber lain, akan disertakan dalam catatan-catatan kaki berikutnya.
[3] Imprealisme bisa kita lihat sebagai sebuah usaha mencari sumber kekayaan baru oleh negara-negara Eropa jaman itu. Diawali dengan usaha-usaha pelayaran oleh negara-negara Eropa di awal-awal masa Pencerahan demi mencari emas, yang mana dalam ilmu ekonomi dikenal dengan zaman Bullionisme, imperialisme berkembang menjadi penjajahan dan pembentukan negara-negara koloni.
[4] Lih. Denys Lombard, Nusa Jawa : Silang Budaya : Batas-batas Pembaratan, Jilid I, diterjemahkan oleh Winarsih Partaningrat, Rahayu S. Hidayat, Nini Hidayati Yusuf, (Jakarta : Gramedia Pustaka Utama dan Forum Jakarta-Paris), 2008.
[5] Lih. Ibid Denys Lombard, hal. 72-74.
[6] Sarekat Islam termasuk organisasi yang sangat revolusioner pada massa itu. Organisasi ini dibentuk tahun 1911 dengan nama awalnya Sarekat Dagang Islam. Dari organisasi inilah banyak pemimpin perjuangan kemerdekaan Indonesia menimba ilmu. Soekarno, sang proklamator kemerdekaan Indonesia, pernah juga terlibat dalam organisasi ini, setidak-tidaknya melalui pengaruh H.O.S. Tjokroaminoto yang sekaligus menjadi guru Soekarno muda. Lih, Onghokham, Sukarno Orang Kiri, Revolusi dan G30S 1965, (Jakarta : Komunitas Bambu), 2009, hal. 5.
[7] Sebagaimana dikutip oleh Nor Hiqmah dalam H.M. Misbach Kisah Haji Merah, (Jakarta: Komunitas Bambu), 2008, hal. xxii.
[8] Ibid, Nor Hiqmah, hal. 22
[9] Modern di sini tidak dipahami seperti modern dalam modernisme di mana penekanan pada antroposentrisme melainkan hanya sebatas pada perubahan dari zaman tradisional ke zaman yang lebih maju setelahnya.


*Catatan: Tulisan ini sebelumnya dipublikasikan di Jurnal ProblemFilsafat April 2011.

Please follow and like us:

Post Comment

RSS
Instagram