Untuk apa manusia hidup barangkali adalah pertanyaan yang paling mengganggu manusia. Tentu saja para filsuflah yang paling dipusingkan oleh pertanyaan ini; atau barangkali memang hanya merekalah yang akan berusaha menjawabnya secara sistematis. Dalam filsafat, kerapnya pertanyaan ini berjalan bersamaan atau dipecahkan melalui juga pertanyaan ‘siapakah atau apakah itu manusia’ yang membedakannya dengan makhluk hidup yang lain. Pada kesempatan ini kita akan melihat jawaban atas pertanyaan mengenai apa tujuan hidup manusia dari Aristoteles dan Thomas Aquinas dan bersamaan dengan itu pula jawaban atas pertanyaan siapakah atau apakah manusia yang membedakannya dengan makhluk hidup yang lain.

Kerumunan Manusia | Sumber: symmetrymagazine.org

Siapakah Manusia

Untuk sampai pada jawaban mengenai apa tujuan hidup manusia, tentu saja kita harus menjernihkan terlebih dahulu siapakah itu manusia. Dengan mengetahui apakah itu manusia barangkali akan memudahkan kita membicarakan tujuan hidupnya. Aristoteles dan Thomas Aquinas sebenarnya berangkat dari hal yang sama dalam menjawabi pertanyaan ini.

Bagi Aristoteles jelas akal budi-lah yang menjadikan manusia berbeda dengan makhluk lainnya. Akal budi ini yang memungkinkan manusia mengkontemplasikan hal-hal yang tak bergerak theori dan melakukan tindakan-tindakan etis praktis. Hal ini pada Thomas Aquinas pun diamini. Tetapi demikian, Thomas melanjutaknnya dengan menunjukkan sebuah ciri khas manusia yang tidak ada pada makhluk lain yakni akal budi yang memungkinkan ia terbuka pada Yang Ilahi. Menurut Aquinas, akal budi terbuka secara hakiki kepada yang tak terhingga. Di sinilah perbedaan manusia dengan binatang. Dengan akal budinya yang terbuka pada yang tak terhingga inilah maka Tuhan bisa mewahyukan dirinya pada manusia. Namun demikian, manusia hanya memiliki potensi keterbukaan itu. Sedangkan aktualitas-nya ada pada Allah dan hanya Allahlah yang akan memenuhi keterbukaan itu.

Thelos Hidup Manusia

Aristoteles: Kebahagiaan di Bumi

Patung Aristoteles | Sumber: https://en.wikipedia.org/wiki/Aristotle

Bagi Aristoteles, tujuan manusia adalah kebahagiaan (eudaimonia). Menurut Gerard Huges, yang dimaksudkan dengan ‘kebahagiaan’ ini bukanlah dalam pengertian sebuah perasaan ‘bahagia’. Melainkan Aristoteles mengartikannya sebagai mencapai kepenuhan potensi seseorang. Aristoteles juga mengatakan bahwa kebahagiaan adalah, dengan satu dan lain cara, ‘hidup dengan baik’. Gerard Huges lantas mengusulkan terjemahan eudaimona dengan ‘kehidupan yang terpenuhi’ atau ‘pemenuhan’. (Gerard Huges, hlm. 22).

Cara hidup seperti apa yang membawa pada kebahagiaan. Kepuasan dari cara hidup atau tindakan itu bukan demi hal lain di luar dirinya tetapi demi dirinya itu sendiri. Aristoteles mencontohkan dengan seseorang yang bermain seruling. Ia lantas membedakan tiga pola hidup dengan kepuasan dalam dirinya; hidup mencari nikmat, hidup politis, dan hidup sebagai filsuf. Aristoteles lantas melihat kedua hal yang terakhirlah sebagai jalan menuju kebahagiaan. Karena nilai tertinggi bagi manusia mesti terletak pada suatu tindakan yang merealisasikan kemampuan atau potensialitas khas manusia yakni akal budi.

Dua pemikiran tentang manusia menurut Aristoteles menentukan juga pemenuhan potensi dirinya yakni zoon logon echon (makhluk yang memiliki roh) dan zoon politikon (makhluk politik). Sehingga dua tindakan yang mengaktualisasikan potensi khas manusia adalah kegiatan politis dan kontemplasi filosofis; praxsis dan theoria. Yang pertama kerapnya adalah kegiatan bagi orang tertentu saja sehingga perealisasian diri manusia sebenarnya adalah polis melalui kegiatan praxsis.

Prakxsis ini bukan hanya mengejar kebahagiaan untuk diri sendiri, karena manusia adalah makhluk berciri sosial, melainkan untuk semua komunitas. Di sinilah pengertian politikon dari Aristoteles perlu diperjelas. Yang dimaksud dengan politikon adalah kesosialan manusia yang mencapai realisasi utuh melalui partisipasi dalam kehidupan negara. Manusia bertindak etis melalui segala tindakan dalam rangka kesosialannya, terutama berpartisipasi dalam pemajuan negara-kota.

Yang membahagiakan manusia adalah komunikasi aktif atau pergaulan dengan sesama manusia, melalui struktur-struktur sosial yang khas pada manusia. Praxsis adalah kesibukan dalam kerangka pelbagai struktur komunitas demi kehidupan bersama yang baik. Namun demi bertindak secara etis orang harus tahu apa itu yang etis. Ini didapat dari sebuah kebiasaan. Ilmu etika sendiri, yang adalah ilmu praxsis, menyediakan perspektif untuk sebuah pengertian yang tepat itu. Demi memahami ketepatan tindakan perlu dimiliki keutamaan (arete). Keutamaan adalah sikap-sikap batin yang dimiliki manusia (hexis prohairetike). Keutamaan terbagi dua yakni keutamaan intelektual dan keutamaan etis. Kemampuan untuk selalu bertindak menurut pengertian yang tepat adalah kebijaksanaan kedua phronesis. Phronesis adalah kemampuan orang untuk mengambil sikap dan keputusan bijaksana dalam memecahkan pelbagai masalah dalam kehidupan sehari-hari.

Dengan demikian bisa dikatakan bahwa etika Aristoteles adalah etika teleologis. Namun demikian ia teleologis yang egois. Selain itu ia juga adalah etika eudenomisme karena nilai tertinggi adalah kebahagiaan. Ciri kedua ini akan kita temukan juga dalam Thomas Aquinas.

Thomas Aquinas: Kebahagiaan setelah Kematian

Penggambaran Sosok Thomas Aqunias Yang Dibuat Oleh Carlo Crivelli (abad ke-15) | Sumber: https://id.wikipedia.org/wiki/Thomas_Aquinas

Aquinas sesungguhnya seseorang yang juga mengikuti pemikiran Aristoteles. Tujuan manusia adalah kebahagiaan dan kebahagiaan tertinggi tercapai dalam theoria; permenungan manusia tentang Tuhan. Menurut Thomas, lebih khusus, dalam contemplatio permenungan dalam memandang Yang Ilahi. Di sinilah perbedaan atau bisa dikatakan Aquinas melangkah lebih jauh dari Aristoteles. Kebahagiaan itu tidak tercipta jika hanya berhenti pada permenungan filsafat. Ia akan menjadi sungguh bahagia ketika berhadapan dengan Yang Ilahi. Kebahagiaan itu mencapai tujuan terakhirnya pada Tuhan. Tuhan ini bukan sesuatu yang indrawi sehingga pandangan yang membahagiakan itu hanya mungkin terjadi dalam alam baka.

Ciri etika Aquinas dengan demikian terletak pada transendensinya: kebahagiaan mungkin tercapai sesudah hidup ini. Di sanalah manusia bisa memandang Tuhan yang merupakan nilai terakhir manusia karena Tuhan adalah nilai tertinggi dan universal. Dengan akal budi, manusia manusia punya potensialitas pada yang tak terhingga. Namun yang memungkinkan ia beraktualisasi adalah apa yang tak terhingga di luarnya itu sendiri.

Dengan demikian, manusia membutuhkan Tuhan untuk mengejawantahkan potensialitasnya itu. Di sinilah apa yang disebut Rahmat menjadi penting. Pada titik ini kita menemukan ciri khas dari filsafat skolastik, di mana Aquinas adalah tokoh pentingnya, perpaduan filsafat dan teologi. Lebih jauh justru filsafat sebagai pembantu teologi; ancilla teologi.

Namun demikian bukan berarti manusia itu bersifat pasif. Manusia punya kebebasan untuk memilih antara baik dan buruk. Namun sesungguhnya, kehendak manusia mengarahkan pada yang baik; kepada nilai Yang tak Berhingga. Karena di situlah letak kodrat manusia yang sesungguhnya. Dalam kegiatan manusia yang disebut sebagai actiones humanae (kegiatan manusiawi), sebuah ciri khas manusia yang lain yang membedakannya dengan makhluk lain, terlihatlah manusia punya kebebasan untuk memilih yang baik dan buruk. Kegiatan Manusiawi adalah kegiatan yang bisa ditentukan manusia sendiri; tidak terikat pada ‘kealamiahannya’. Dalam melakukan kegiatan yang bebas ini, hendaklah manusia berpegang pada perintah moral. Perintah moral yang paling mendasar menurut Aquinas adalah “lakukanlah yang baik jangan melakukan yang jahat”. Dari sini kita masuk pada keutamaan (virtue-arete) menurut Aquinas yakni kemantapan untuk berbuat baik dan untuk menolak yang jahat. Keutamaan ini, seperti Aristoteles, timbul dari sebuah kebiasaan.

Apa yang baik dan apa yang buruk ini kita temukan dalam hukum kodrat. Ini berbeda dengan Aristoteles yang melihat sesuatu sebagai baik bila menuju kebahagiaan bagi pollis. Kodrat adalah struktur realitas, realitas, hakikat realitas yang ada. Bunyi hukum kodrat yang paling sederhana namun juga cukup penting adalah hiduplah sesuai dengan kodratmu. Hukum kodrat muncul dalam dua macam yakni hukum alam dan hukum moral. Hukum moral adalah norma-norma yang harus diikuti dan dianut. Dan persis inilah yang merupakan ciri khas manusia; ia bisa mengikuti atau tidak mengikuti hukum moral itu.

Manusia yang mengikuti kodratnya adalah manusia yang bermoralitas baik dan sebaliknya. Moralitas manusia ada dalam tindakan yang mengembangkan dan menyempurnakan kodratnya. Di sini kita kembali pada kekhasan manusia yang dibedakan dengan makhluk lain menurut Aquinas yakni kerohaniannya. Dengan demikian hidup sesuai dengan kodratnya adalah hidup dengan mengembangkan kekhasannya ini.

Pada Aquinas kita lihat bahwa moralitas memasuki unsur kewajiban. Karena kodrat itu berasal dari Tuhan dan manusia wajib mengikuti kodratnya itu. Mengapa demikian karena kodrat manusia mencerminkan kebijaksanaan Tuhan yang menciptakan alam semesta. Kodrat bukan tentang manusia melainkan juga tentang kebijaksanaan Allah.

***

Demikianlah kita melihat pembedaan antara Aristoteles dan Thomas Aquinas dan juga kesamaan-kesamaannya. Sama-sama kedua pemikir ini merujuk pada kebahagiaan sebagai tujuan akhir hidup manusia. Namun keduanya berbeda dalam menentukan apa itu kebahagiaan. Kebahagiaan bagi Aristoteles adalah pemenuhan potensialitas manusia, demikian juga Aquinas. Namun apa potensi manusia yang perlu dipenuhi itu. Di sini Aristoteles melihatnya pada kehidupan pollis sebagai yang utama sedangkan Aquinas melihatnya pada pertemuan atau memandang Tuhan sebagai yang utama.

“Physiologie du flâneur” (1841) karya Louis Huart | Sumber: procrastinationoxford.org

Barangkali kita bisa mengamini pembedaan ini lantaran kosmologi dunia yang dihidupi kedua pemikir tersebut. Aristoteles hidup di zaman Yunani Kuno yang melihat semua hal ada di bawa langit dan tidak ada sesuatu yang lain di luarnya. Sedangkan Aquinas, pada masa abad pertengahan Eropa, melihat ada Yang Ilahi di balik semesta. Kosmologi dunia Yunani Kuno memang melihat ada makhluk lebih tinggi dari manusia tetapi mereka hidp tidak di luar atau melampaui langit; para dewa hidup di Olimpus, di laut, dsb. Sedangkan Tuhan Kristiani yang menjadi ciri khas Eropa Abad Pertengahan tempat Aquinas hidup adalah Yang Ilahi yang melampaui Alam Semesta.

Daftar bacaan:

Franz Magnis-Suseno, 1997, 13 Tokoh Etika: Sejak Zaman Yunani Sampai Abad ke-19. (Yogyakarta: Kanisius).
Franz Magnis-Suseno, 1997, 13 Model Pendekatan Etika: Bunga Rampai Teks-teks Etika dari Plato Sampai Dengan Nietzsche, (Yogyakarta: Kanisius).
Gerard J. Hughes, 2001, Routledge Philosophy Guide Book to Aristotle on Ethics, (London: Routledge)


Catatan: Tulisan ini semacam sebuah tugas kuliah yang lantas kala itu diunggah di kecoamerah.blogspot.com pada 26 Januari 2015.

Please follow and like us:

Post Comment

RSS
Instagram