Sebagai Wakil Ketua I Pengurus Harian Dewan Kesenian Jakarta 2026-2029, saya berdiskusi dengan Marco Kusumawijaya, Ugeng T. Moetidjo, dan Ibu Hajah Mahariah perihal ekosistem seni di Jakarta. Diskusi Meja Bundar itu dimoderatori oleh Dewi Noviami.

Bagaimana membangun ekosistem seni Jakarta yang tumbuh melampaui Taman Ismail Marzuki (TIM)? Program Meja Bundar Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) mempertemukan beragam perspektif untuk membahas masa depan ekosistem seni Jakarta yang lebih merata, inklusif, dan berkelanjutan. Meski memiliki posisi penting dalam sejarah kesenian Jakarta, TIM bukan satu-satunya ruang tumbuh bagi praktik seni. Pengetahuan, kesempatan, dukungan, sirkulasi karya, dan kewenangan program perlu berkembang di berbagai wilayah, termasuk Kepulauan Seribu. Diskusi ini menggabungkan pembacaan historis dan perkotaan, pengalaman pengelolaan ruang budaya di wilayah kepulauan, yang diarahkan untuk merumuskan agenda konkret dalam memperkuat kebertahanan ekosistem seni Jakarta, sekaligus memperjelas peran DKJ sebagai pendengar, penghubung, pengadvokasi, dan penggerak jejaring tanpa memusatkan seluruh prakarsa pada satu institusi atau ruang.

Narasumber:

  • Marco Kusumawijaya, arsitek, urbanis, dan pemerhati kota
  • Hj. Mahariah, penggerak Rumah Budaya Selat Bonot, Kepulauan Seribu
  • Ugeng T. Moetidjo, pengelola program pendampingan seni hibrida bagi peserta lintas latar
  • Berto Tukan, Wakil Ketua I Dewan Kesenian Jakarta

Moderator: Dewi Noviami

Please follow and like us:

Post Comment

RSS
Instagram