Beberapa hari lalu, saya menemukan sebuah artikel di lembaran ini yang sangat menyejukan hati; “Sastra NTT Tak Pernah Mati”. Dalam tulisan itu, Yoseph Lagadoni Herin menegaskan bahwa masih banyak sastrawan NTT yang terus berkarya, bahkan mewarnai sastra nasional, sehingga tidak benar bila dikatakan sastra NTT mati.

Membaca tulisan Herin, banyak hal membuat kita lega, setidak-tidaknya masih ada perbincangan seputar penciptaan sastra (di) NTT hingga masa depan para penggumulnya di sana. Namun, tulisan itu pun meninggalkan banyak hal yang patut diperbincangkan dan ditelisik lebih jauh.

Seperti yang diutarakan di atas, tulisan Herin hanya berputar pada para penulis (baca: sastrawan) saja. Seakan-akan, ketika ada orang yang tinggal di NTT dan menulis sastra, maka hidup dan bergejolaklah sastra (selanjutnya baca: sastra modern) di NTT. Herin mengerdilkan bahkan mengesampingkan tiga hal penting lain yang tak terpisahkan dalam perbincangan sastra, yaitu penikmat atau pembaca, kritik, dan para pemangku kepentingan. Tanpa keempat faktor itu, niscaya tak adalah apa yang disebut sastra.

Gerson Poyk | Sumber: tempusdei.id

Ketika sebuah karya sastra telah tercipta oleh pengarangnya, tak bergunalah ia bila ia tak menemukan para penikmatnya. Para penikmat sastra bukanlah sekumpulan orang yang dengan begitu saja muncul dan ditemukan di sembarangan tempat. Ada syarat-syarat tertentu untuk bisa menikmati sastra. Melek huruf, daya jangkau informasi yang memadai, serta ketersediaan karya sastra adalah beberapa di antaranya. Pertanyaannya untuk sastra (di) NTT, seberapa banyakkah di sana kita temukan para penikmat dan pengapresiasi sastra? Pada titik ini, perhatian kita dalam rangka perbincangan sastra (di) NTT sebaiknya jangan berlompat ria ke media massa nasional, menembus Kompas atau Jurnal Sastra Indonesia yang berbasis di Yogya. Sungguh lebih bijaksana bila memperbincangkan hal-hal yang disebutkan di atas, karna sastra dipercayai adalah sebuah tamasya yang sungguh memperkaya hidup, bukan soal dikenal luasnya sang sastrawan.

Selain pembaca, sastra juga dihidupkan oleh kritik. Tanpa kritik sastra, tanduslah sastra. Pasca perginya HB Jassin, sastra Indonesia kehilangan kritik yang menghidupinya. Para penerus Jassin semisal Maman S Mahayana, Faruk, Jakob Sumardjo pun sudah mulai jarang menulis. Sedangkan para pengganti mereka yang memadai belum pula menunjukkan batang hidungnya. Dua nama yang patut dikenang dalam perbincangan ini pada hemat saya adalah Ignas Kleden yang menyempatkan waktu menulis kritik dan kata pengantar beberapa buku sastra.

Almarhum Dami N Toda dengan penemuannya yang menjadi hantu perpuisian Indonesia, bahwa semenjak Chairil (mata kanan sastra Indonesia) dan Sutardji (mata kirinya), tak akan ada lagi yang baru dalam puisi Indonesia, janganlah dilupakan.

Dengan kritiklah sastra Indonesia menjadi dewasa. Maka tidak heran bila sekarang begitu banyak insan sastra yang merindukan lahirnya Jassin-jassin baru. Bagaimana dengan sastra di NTT? Adakah kritikus-kritikus yang melancarkan kritik-kritik segar sebagai pupuk tumbuhnya sastra di NTT?

Selain lewat kritik para kritikus, bisa ditemukan masukan yang berarti untuk proses kreatif pengarang, mereka juga bisa menjadi referensi dan tuntunan bagi para pembaca sastra. Mana yang bernilai dan mana yang tak bernilai dari karya-karya sastra yang ada di NTT niscaya bereferensi dari para kritikus ini. Walaupun memang postmodernisme tak menghalalkan lagi dikotomi mutu semacam itu, saya kira untuk kasus tertentu, di tengah sebuah budaya baca yang belum kokoh, dikotomi ini masih dibutuhkan.

Yang berikutnya dari umbaran ini adalah bagaimana para pemangku kepentingan memberi aura segar demi perkembangan kehidupan sastra. Para pemangku kepentingan di sini tentu saja bisa berbagai hal, karena memang sastra selalu bersinggungan dengan apa pun dalam kehidupan ini. Mulai dari pemerintah, kampus sastra, penerbitan/publikasi, institusi agama dan lain sebagainya.
Setidak-tidaknya ada dua pemangku kepentingan yang disebutkan Herin dalam tulisannya; penerbitan/publikasi dan pemerintah daerah. Kira-kira ada dua publikasi pula yang disebutkan Herin: Pos Kupang dan VOX. Mengenai pemerintah daerah dapat ditemukan di akhir tulisan Herin dalam hubungan dengan pekerjaan rumah mengenalkan sastra NTT lebih luas – ‘uluran tangan pemerintah daerah’.

Pos Kupang menghadirkan lembaran khusus untuk sastra di edisi Minggunya. Apa yang dilakukan harian NTT ini dilakukan juga beberapa terbitan harian tanah air lainnya. Ini yang membedakan sastra Indonesia dengan sastra di negara lain, yakni fenomena sastra koran. Dengan demikian, karya sastra yang dihadirkan di lembaran media harian semacam ini tak pelak akan mengikuti visi dan misi harian tersebut atau mengikuti selera redaksi sastranya, di samping space-nya yang dibatasi. Akibatnya, sastra yang hadir di publik bukan lagi buah karya otentik, melainkan karya sastra yang sesuai dengan selera media tersebut dengan mengesampingkan karya-karya yang tak masuk dalam  frame media bersangkutan.

Konferensi Penulis Asia-Afrika. Salah satu anggota delegasi Indonesia di kegiatan ini adalah Virga Belan | Sumber: https://arusbawah20.wordpress.com/2014/02/03/kisah-kpaa-dan-seanteronya-dan-genderang-maut-semangat-bandung/

VOX adalah sebuah media selenggaraan mahasiswa STFK Ledalero. Media ini, di setiap penerbitannya, memberi tempat khusus untuk karya sastra, di samping menghadirkan ulasan-ulasan filsafat, teologi, sosial, budaya yang menjadi concern media ini. Banyak sudah penulis sosial budaya yang dilahirkan dan dibesarkan media ini. Hanya saja untuk sastrawan, masih jauh dari perbincangan. Rendra dan Linus Suryadi Ag menulis di BASIS pada masa awal kepengarangan mereka.

Tetapi apakah BASIS  yang membesarkan mereka, perlu diteliti dengan terperinci dan lebih mendalam lagi.  Demi sebuah kehidupan sastra (di) NTT yang lebih baik, saya kira dibutuhkan sebuah media yang mengkhususkan diri pada sastra dan kerja-kerja sastra yang lebih terfokus. Akhir 2008 lalu, Kalimantan Selatan menelorkan jurnal sastra khusus untuk daerah itu. Melalui media khusus seperti itu, kita boleh berharap pula munculnya kerja-kerja kreatif lain di bidang sastra, semisal kegiatan membangkitkan minat baca dan minat mencipta sastra sebagaimana yang pernah dicontohkan Horison beberapa tahun lalu.

Mengenai pemerintah daerah, pada hemat saya, tidak sekadar ‘uluran tangan’ yang berkonotasi negatif itu semata. Pemerintah daerah bertanggung jawab pula sebenarnya mendorong lahirnya minat baca, publikasi, serta ruang kreatif untuk sastrawannya. Inilah yang sebenarnya menjadi keluhan di dunia sastra Indonesia pada umumnya, bahwa pemerintah cenderung menutup mata pada permasalahan sastra budaya atau apresiasi pemerintah pada masalah ini sungguh rendah. Maka tak heran, para pekerja sastra budaya lebih sering mencari jalan sendiri, ketimbang mendapat dukungan dari pemerintah dalam kerja kreatif mereka. Pemandangan ini sungguh berbeda bila dibandingkan dengan bidang olahraga misalnya.

Demikianlah. Membicarakan sastra, tidak sekedar membicarakan para penulis karya sastra yang berhasil menembus publikasi yang luas, melainkan tiga faktor lainnya yang disebutkan di awal umbaran ini harus mendapat perhatian serius. Ketika para penulis karya sastra (dari) NTT berhasil mempublikasikan karyanya secara nasional, apakah gunanya jika ternyata apresiasi untuk sastra (di) NTT sendiri tidak seperti yang diharapkan? Lalu bagaimanakah kita mendefinisikan sastra (di) NTT ketika tak ada kritik sastra di sana? Begitulah. Semoga perbincangan sastra tak menyepelekan perkembangan sastra secara kualitas dan kesungguhan, kepekaan sastrawan dalam menggumuli dan mengolah hidup. Ketika sesuatu disepelehkan, sesepeleh itu pula apa yang dicapainya.


*Catatan: Tulisan ini pertama kali dipublikasikan di Harian Pos Kupang, 21 Januari 2009.

Please follow and like us:

Post Comment

RSS
Instagram