Pada Minggu, 26 Januari 2020 yang lalu, atas undangan dari sebuah toko buku kecil di Cirebon yang bernama Kiosque Godong Semanggén, saya berkesempatan untuk berbagi pengalaman dan pengetahuan saya yang tak seberapa perihal penulisan cerita pendek. Sebelum masuk ke seluk beluk yang tidak terlalu memusingkan dari berbagi pengalaman dan pengetahuan menulis cerpen yang kerap kita sebut dengan Workshop Menulis Cerpen itu, ada baiknya saya sedikit memaparkan bagaimana ceritanya sampai Kiosque Godong Semanggén yang ada di dalam kompleks Continuum ini mengundang saya untuk memberikan workshop tersebut. Sederhana saja ceritanya, si kios mungil bernuansa putih ini didirikan dan dijalankan oleh pacar saya, Sinta Ridwan, dan kawannya, Suciyadi Ramdhani, serta beberapa kawan lainnya. Tentu saja dengan demikian sudah jelaslah perkaranya; meminjam istilah dari seorang kawan bernama Edo aka Dirdho Adithyo, ‘dipakai serampangan’.

Penampakan dari Kiosque Godong Semanggén | Foto: Suciyadi Ramdhani
Sinta Ridwan di Depan Kiosque Godong Semanggén | Foto: Suciyadi Ramdhani

Workshop Menulis Cerpen ini sendiri merupakan salah satu mata acara dari rangkaian acara di Kiosque Godong Semanggén yang dibungkus di dalam tajuk “Buku Ceria #1”. Artinya tentu saja adalah akan ada Buku Ceria kedua, ketiga, dan seterusnya. Mata acara yang lain adalah Workshop Menulis Puisi bersama penyair dengan puisi-puisi manis Esha Tegar Putra, diskusi buku (yakni buku kumpulan puisi terbaru Esha, Setelah Gelanggang Itu, dan buku kumpulan cerpen saya, Seikat Kisah Tentang yang Bohong), pertunjukan musik, pembacaan puisi, dan bazaar buku.

Suasana Workshop Puisi Bersama Esha Tegar Putra | Foto: Suciyadi Ramdhani
Kawan-kawan Tengah Kongkow di Acara Buku Ceria I | Foto: Suciyadi Ramdhani
Suasana Buku Ceria I-nya Godong Semanggén | Foto: Suciyadi Ramdhani
Diskusi Buku Kumpulan Puisi Karya Esha Tegar Putra | Foto: Suciyadi Ramdhani
Tari Topeng Kelana di Buku Ceria I | Foto: Suciyadi Ramdhani
Diskusi Buku Kumpulan Cerpen “Seikat Kisah Tentang yang Bohong” | Foto: Suciyadi Ramdhani
Suasana Malam Buku Ceria I | Foto: Suciyadi Ramdhani
Menyaksikan Semacam Musikalisasi Puisi Karya Sinta Ridwan + Performance | Foto: Suciyadi Ramdhani
Itonk Lucky Berdendang di Buku Ceria I | Foto: Suciyadi Ramdhani

Nah, kembali kepada proses berbagi pengalaman dan pengetahuan menulis cerpen di atas. Waktu yang diberikan kepada saya untuk Workshop Menulis Cerpen ini adalah dua jam kurang lebihnya. Tentu saja kita tahu belaka bahwa di dalam waktu dua jam tidak akan banyak hal yang bisa dipraktikan dan tidak banyak hal juga yang bisa dibicarakan. Jika pun kita memaksakan untuk mempraktikan banyak hal dan membicarakan beragam bahasan, niscaya hanya pada permukaan dan lantas akan hilang dalam sekejap saja.

Semacam Cuap-Cuap Pengantar di Hadapan Para Peserta Workshop Menulis Cerpen | Foto: Suciyadi Ramdhani

Alhasil, dengan kesadaran akan hal di atas, bahan-bahan workshop menulis cerpen yang bernas dan briliant (tentu saja tidak seperti ini) yang sudah saya siapkan urung saya keluarkan. Tentu saja ‘tak kenal maka tak sayang’ selalu menjadi semacam kewajiban tak tertulis. Maka, workshop itu pun dibuka dengan saling memperkenalkan diri. Beberapa peserta tentu datang agak terlambat. Beberapa peserta juga, dua saya kira, pulang terlalu cepat.

Semacam ‘Orang Benar’ yang Tengah Berbagi Elmu Disponsori Kopi Karma | Foto: Suciyadi Ramdhani

Saya lantas menggunakan formula khas yakni ‘cara belajar menulis yang terbaik adalah menulislah’. Saya punya keyakinan bahwa mereka-mereka yang tergerak mengikuti workshop ini sedikit banyak sudah punya pengalaman menulis. Atau setidaknya punya bayangan yang kental perihal menulis. Entah menulis fiksi atau pun non fiksi. Waktu dua jam lantas dibagi dua. Sesi pertama, satu jam, diisi oleh para peserta langsung menulis. Sesi kedua, satu jam juga, diisi dengan masing-masing peserta membacakan hasil tulisan mereka dan lantas dikomentari bersama-sama. Dengan demikian, tugas saya hanyalah sebagai fasilitator.

Botol Air Mineral Sebagai Sumber Penciptaan | Foto: Suciyadi Ramdhani

Namun, meminta peserta untuk langsung menulis tanpa ada stimulus tertentu tentunya tak elok pula. Di Kiosque Godong Semanggén tersedia air mineral produksi lokal Cirebon. Kemasan botolnya transparan dan tanpa plastik pembungkus bertuliskan keterangan ini itu sebagaimana yang kerap kita temukan di botol air mineral lainnya (katakanlah pada botol air mineral bermerk Aqua atau VIT). Saya lantas meminta para peserta untuk menuliskan sebuah kisah fiksi yang berangkat dari botol air mineral itu. Tentu saja diawali dengan kalimat-kalimat contoh sebagai perangsang awal. Para peserta pun setuju. Sejam penuh mereka menulis dengan khusuk. Tentu saja ada beberapa yang tidak terlalu khusuk.

Sesi I Workshop, Peserta Menulis dengan Khusuk | Foto: Suciyadi Ramdhani
Dalam Hal Ini, Menyontek Memang Tak Perlu | Foto: Suciyadi Ramdhani

Sejam berlalu lantas diisi dengan jeda sekitar 15 menit. Setelah itu, para peserta bergilir membacakan karya mereka. Saya mewajibkan semua peserta untuk setidaknya mengeluarkan satu komentar, kritik, atau pertanyaan terhadap hasil karya kawannya. Tentu saja tidak berjalan mulus. Namun, ada saja komentar dan kritik yang dilontarkan setiap kali seorang peserta selesai membacakan karyanya.

Peserta Membacakan Karyanya dan Dikomentari Bersama-sama | Foto: Suciyadi Ramdhani

Hasilnya, untuk waktu menulis sejam, cukup memuaskan. Tidak sampai pada tingkat sangat memuaskan sekali. Namun dari hasil itu tampak bahwa para peserta sudah punya modal dasar yang kuat untuk melanjutkan kegiatan menulisnya tersebut. Di akhir workshop, saya meminta para peserta untuk memperbaiki lagi karya mereka dengan mengindahkan masukan-masukan yang didapatkan pada forum tersebut. Mereka akan mengirimkan kembali karya mereka itu di bawah koordinasi panitia aka pasukan Kiosque Godong Semanggén. Tentu saja mari kita tunggu hasil dari revisian mereka.

Foto Bersama Peserta dan Fasilitator Workshop Menulis Cerpen dan Ada Nongol Pula Bintang Tamu, Penulis Novela “Waktunya Menutup Toko” | Foto: Suciyadi Ramdhani
Semacam “May The Force Be With Kiosque Godong Semanggén” | Foto: Suciyadi Ramdhani

 

Please follow and like us:

Post Comment

RSS
Instagram